Pulau dengan beragam Budaya, Flora dan Fauna.

Minggu, 19 Maret 2017

Flora Dan Fauna Pulau Flores







Ini adalah Flora Dan Fauna yang ada di pulau flores , bahkan ada juga yang tergolong langka loh, Apa saja itu...




1.Komodo

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis) adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara dan temasuk generasi naga “Dragon Komodo”. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Termasuk anggota famili biawak Varanidae, dan klad Toxicofera, komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.
Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki berat sekitar 70 kilogram, namun komodo yang dipelihara di penangkaran sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Spesimen liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang sebesar 3.13 meter dan berat sekitar 166 kilogram, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Meski komodo tercatat sebagai kadal terbesar yang masih hidup, namun bukan yang terpanjang. Reputasi ini dipegang oleh biawak Papua (Varanus salvadorii). Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2.5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gingiva dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina, dengan warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata, sementara komodo betina lebih berwarna hijau buah zaitun, dan memiliki potongan kecil kuning pada tenggorokannya. Komodo muda lebih berwarna, dengan warna kuning, hijau dan putih pada latar belakang hitam.
Komodo tak memiliki indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga. Biawak ini mampu melihat hingga sejauh 300 m, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut, hewan ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam. Komodo mampu membedakan warna namun tidak seberapa mampu membedakan obyek yang tak bergerak. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan yang dapat membantu navigasi pada saat gelap. Dengan bantuan angin dan kebiasaannya menelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika berjalan, komodo dapat mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4—9.5 kilometer. Lubang hidung komodo bukan merupakan alat penciuman yang baik karena mereka tidak memiliki sekat rongga badan. Hewan ini tidak memiliki indra perasa di lidahnya, hanya ada sedikit ujung-ujung saraf perasa di bagian belakang tenggorokan. Sisik-sisik komodo, beberapa di antaranya diperkuat dengan tulang, memiliki sensor yang terhubung dengan saraf yang memfasilitasi rangsang sentuhan. Sisik-sisik di sekitar telinga, bibir, dagu dan tapak kaki memiliki tiga sensor rangsangan atau lebih. Komodo pernah dianggap tuli ketika penelitian mendapatkan bahwa bisikan, suara yang meningkat dan teriakan ternyata tidak mengakibatkan agitasi (gangguan) pada komodo liar. Hal ini terbantah kemudian ketika karyawan Kebun Binatang London ZSL, Joan Proctor melatih biawak untuk keluar makan dengan suaranya, bahkan juga ketika ia tidak terlihat oleh si biawak.


2. Burung Kehicap Flores

Burung Kehicap Flores atau Monarcha sacerdotum, merupakan salah satu burung endemik pulau Flores, Nusa Tenggara Barat. Burung Kehicap Flores pun menjadi salah satu burung langka di Indonesia. Daftar Merah IUCN memasukkannya sebagai spesies Endangered (Terancam; EN). Sayangnya, meskipun langka dan endemik, Kehicap Flores belum tercantum sebagai burung yang dilindungi di Indonesia.
Burung yang masih berkerabat dekat dengan Kehicap Boano (Monarcha boanensis) ini dalam bahasa Inggris disebut sebagai Flores Monarch. Sedangkan nama latin hewan dari famili Monarchidae ini adalah Monarcha sacerdotum Mees, 1973. Nama sinonimnya, Symposiachrus sacerdotum (Mees, 1973).
Kehicap Flores atau Flores Monarch adalah burung berukuran berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 15,5 cm. Tubuh bagian atas hitam keabu-abuan. Pun pada bagian sayap dan ekor, namun sedikit lebih gelap. Sedangkan bulu luar ekor berwarna putih. Bagian muka berwarna hitam. Dahi, tenggorokan, dan bagian bawah tubuh berwarna putih. Sekilas mirip dengan kerabatnya, Kehicap Kacamata, namun tidak memiliki bulu  berwarna merah-karat di tubuh bagian bawah.
Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum)
Merupakan hewan diurnal (aktif di siang hari) dan teritorial. Bisa dijumpai sendiri atau berdua. Namun kerap juga dijumpai bergabung dengan burung jenis lain saat mencari makan. Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum) memiliki suara kicauan berupa siulan dan dentingan bervariasi dan semakin meninggi. Juga ocehan lembut yang diselingi dengan 3-4 nada siulan meninggi.
Kehicap Flores atau Flores Monarch merupakan burung asli dan endemik Indonesia. Burung dari famili Monarchidae ini hanya bisa dijumpai di bagian barat daya pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Burung Kehicap Flores mendiami hutan hujan primer semi-evergreen dengan ketinggian antara 350-1.000 meter dpl. Burung ini juga dapat ditemui di hutan meranggas lembab.
Kehicap Flores (Monarcha sacerdotum)
Daerah Sebaran Kehicap Flores
Populasi burung endemik pulau Flores ini 2.500 hingga 10.000 ekor dewasa. Meskipun diyakini terus mengalami penurunan sebagai akibat hilangnya habitat yang disebabkan oleh degradasi hutan dan alih fungsi hutan, terutama untuk ladang berpindah.
IUCN memasukkan burung Kehicap Flores sebagai spesies Endengered (Terancam; EN) sejak 2012. Pertimbangannya adalah daerah sebaran burung langka ini yang sangat terbatas (hanya di bagian barat daya pulau Flores). Juga lantaran terus berlangsungnya fragmentasi dan hilangnya hutan yang mengakibatkan penurunan populasi burung ini.
Meskipun terdaftar sebagai spesies yang terancam punah, namun burung ini belum terdaftar sebagai burung yang dilindungi di Indonesia.
Klasifikasi Ilmiah Kehicap Flores: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Aves. Ordo: Passeriformes. Famili: Monarchidae. Genus: Monarcha. Spesies: Monarcha sacerdotum Mees, 1973.
Share:

3 komentar:

Blogger templates